Jumat, 02 Januari 2015

__Pergolakan Batin__

"dengan kekasihmu saja kau bisa berbicara dengan baik, kenapa dengan -itu-mu sendiri kau tidak melakukannya?" ujarnya, mengingatkanku...


aku diam tak merespon....
dalam hati aku bilang, "kau tidak mengerti"

dalam sekejap,
ingatanku tentang masa itu muncul,

sedikit, memang...
hanya sedikit yang bisa ku ingat..
aku masih anak2 pada waktu itu

Kalau saja, ibuku tidak melarangnya,
kalau saja, ibuku tidak memohon,
kalau saja, ibuku tidak bersabar dalam menghadapinya...
akan jadi apakah keluarga ini,
akan jadi bagaimana aku dan saudara-saudaraku nanti.





Itulah mengapa,
sering kali aku tidak menyukai,
tak mempercayai,
tak mengindahkan,
bahkan pernah anti,
terhadapa makhluk yang konon memiliki dua buah pelir, itu.

Kau tidak mengerti kawan,
aku pernah mengalami masa suram,
yang masih bermukim di pikiranku ini.

dan bahkan mungkin bukan hanya aku,
mungkin setiap orang pernah mengalaminya.


So, sebelum berkata, pandanglah sesuatu dari berbagai sudut.


To : Mas Darto



Kamis, 05 Juni 2014

everafter: aku benci strata sosial

everafter: aku benci strata sosial:



KAMIS, 30 JANUARI 2014

aku benci strata sosial

aku benci strata sosial, aku benci semua yang berkelas. aku benci kelas atas, aku benci kelas menengah, dan aku benci kelas rendah.

aku benci mereka yang suka pilih-pilih teman
aku benci mereka yang suka banding-bandingin kekayaan orang tua
aku benci mereka yang suka mengumbar isi otak
aku benci mereka yang merasa gaul
aku benci orang sok ganteng, sok cantik, sok kaya, sok oke bla bla bla
aku benci mereka yang menilai orang lebih rendah

jujur saja, aku bukan iri dengan mereka. kalian yang seperti itu rasanya tidak lebih dari samp*h, kalian hanya merusak moodku tiap di sekolah. menjijikan.

"kalau yang ini cuma mau main sama yang ini"
"kalau yang itu nggak boleh gabung sama yang ini"
"kalau ngadain acara dia nggak boleh ikut"
"kalau bisa nggak usah ajak dia, acaranya bisa nggak asik"

hahhhh dunia....

Senin, 24 Februari 2014

Dia yang ingin sukses meskipun tanpa aku


DAlihnya itu,
membuatku seperti ini...

Dia
ngga peduli dengan air mataku,
yang tak bisa berhenti menetes ini...

Dia
hanya peduli dengan rencananya itu...

Rencana untuk masa depannya,
memang, bukan hanya aku yang dikorbankannya
tapi pekerjaanya dan juga dia rela membohongi dirinya, begitu katanya

tapi,

aku

ngga

ada

aku ngga ada dalam daftar masa depannya

aku bukan bagian dari rencananya.



aku ditinggalkan bukan karena seseorang yang lain

tapi, seharusnya aku bisa

menerima ini semua


Sama seperti halnya dia yang ngga bisa kupaksa,

aku

juga

sulit untuk dipaksa untuk berhenti menitikkan air mata ini,

aku ngga bisa ngendali'in ini,

tolong jangan paksa aku untuk melumpuhkan ini,


Sebenernya aku hanya ingin menghentikan semua kesedihan ini,
aku sudah mencobanya
tapi
aku ngga bisa

jangan paksa aku seperti itu lagi
aku ngga bisa!

Dia hanya ngga tau
bagaimana rasanya jadi aku

Dia ngga tau kalo "cara" untuk mencapai tujuan baiknya itu,
ternyata menyayat hati ini